Coastal Environmental Degradation and Local Wisdom Responses: A Case Study of Mundam Village, Dumai City

Coastal Environmental Degradation and Local Wisdom Responses: A Coastal Study in Mundam Village, Dumai City

  • Muhammad Rauf Universitas Riau
  • Muhammad Robi Bati Magister Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Riau, Pekanbaru
  • Yusmar Yusuf Dosen Magister Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Riau, Pekanbaru
  • Mita Rosaliza Dosen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Riau, Pekanbaru

Abstract

Coastal environmental damage refers to the process of ecosystem degradation in coastal areas that disrupts their ecological, social, and economic functions. Coastal ecosystems—such as mangroves, coral reefs, coastal land, and shallow waters—play a vital role as natural barriers against abrasion, regulators of the hydrological cycle, and primary sources of livelihood for coastal communities. Responses based on local wisdom consist of actions, strategies, practices, and cultural values developed by communities to protect and preserve their environment. Research on coastal environmental damage and local wisdom is essential to understand both the causes of degradation and the ways in which local communities respond through inherited cultural practices. This study employs a literature review combined with a qualitative approach. The findings indicate that Mundam Village experiences coastal abrasion, mangrove degradation, declining water quality, and ecological disturbances caused primarily by pollution. Local wisdom in Mundam Village is reflected in traditional taboos related to mangrove rehabilitation, indigenous knowledge of weather patterns based on wind and seasonal cycles, and strong social capital manifested through mutual cooperation in environmental protection. In the future, the Mundam Village community is expected to maintain social solidarity, preserve local wisdom practices, and receive sustained support from local government to ensure the continuity of environmentally oriented cultural values.

Kerusakan lingkungan pesisir merupakan proses degradasi atau penurunan kualitas ekosistem di wilayah pesisir yang berdampak pada terganggunya fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi masyarakat. Ekosistem pesisir, seperti mangrove, terumbu karang, daratan pantai, dan perairan laut dangkal, memiliki peran penting sebagai pelindung alami dari abrasi, penyangga siklus hidrologi, serta sumber utama penghidupan masyarakat pesisir. Respons kearifan lokal mencakup berbagai tindakan, strategi, kebiasaan, dan nilai budaya yang dikembangkan oleh masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Kajian mengenai kerusakan lingkungan pesisir dan respons kearifan lokal penting dilakukan untuk memahami penyebab terjadinya degradasi lingkungan serta cara masyarakat meresponsnya melalui praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka yang dipadukan dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Mundam mengalami berbagai bentuk kerusakan lingkungan, antara lain abrasi di wilayah pesisir, degradasi mangrove, penurunan kualitas air, serta gangguan ekologi akibat pencemaran. Kearifan lokal di Desa Mundam tercermin dalam pantang larang pada proses rehabilitasi mangrove, pengetahuan tradisional dalam membaca pola cuaca berdasarkan arah angin dan musim, serta modal sosial berupa praktik gotong royong dalam menjaga lingkungan. Ke depan, masyarakat Desa Mundam diharapkan dapat terus menjaga solidaritas sosial, mempertahankan kearifan lokal, serta memperoleh dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah guna melestarikan nilai-nilai budaya yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Adrianto, L., and Y. Matsuda. “Study On Assessing Economic Vulnerability Of Coastal Communities To Marine Ecological Changes.” Ocean & Coastal Management 47, no. 9–10 (2004): 522–537.

Alif, Muhammad Rauf. “Peran Ayah Dalam Menjalankan Fungsi Keluarga Di Dinas Perhubungan Kota Dumai.” Universitas Riau, 2024.

Berkes, F. Sacred Ecology. 2nd ed. Routledge, 2008.

Fitri, A., and A. Halim. “Dampak Perubahan Kualitas Lingkungan Terhadap Hasil Tangkapan Nelayan Pesisir Riau.” Jurnal Ilmu Lingkungan 18, no. 2 (2020): 123–134.

Ghofir, Jamal. “Pluralisme Dalam Keberagamaan Masyarakat Pesisir Perbatasan Kabupaten Tuban-Lamongan”. Al-Mada: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 7, no. 1 (March 22, 2024): 1-17. https://e-journal.uac.ac.id/index.php/almada/article/view/4552.

Keraf, A. Sonny. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010.

Kinseng, Rilus A. “Perubahan Sosial Budaya Dan Konflik Pada Masyarakat Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Di Indonesia.” Jurnal Sosiologi Pedesaan 09, no. 01 (2021): 1–17.

Kusumawardhani, N., and M. Yusuf. “Analisis Kualitas Air Akibat Pencemaran Minyak Di Perairan Sumatera Bagian Timur.” Jurnal Kelautan Tropis 22, no. 3 (2019): 199–210.

Mardila, Riana. “Ummah for Earth: The Influence of Religious Soft Power Manifestation in Greenpeace Indonesia’s Strategies”. Al-Mada: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 7, no. 3 (July 3, 2024): 571-589. https://e-journal.uac.ac.id/index.php/almada/article/view/4771.

Maryani, D. “Dinamika Abrasi Dan Perubahan Garis Pantai Di Wilayah Sumatera Timur.” Majalah Geografi Indonesia 30, no. 1 (2016): 25–34.

Pomeroy, R. S., and M. Rivera. Fishery Co-Management: A Practical Handbook. CABI Publishing, 2006.

Rosaliza, Mita. “Akit Tribe and Existence Of Mangrove Forest In Berancah Village, Bengkalis, Indonesia.” IOP Publishing 175, no. 1 (2018).

———. “Local Knowledge Suku Akit Bengkalis.” Jurnal Ilmu Budaya 14, no. 2 (2018): 104–112.

Sativa, Salsabila Zahri, Wasiyem, Nabila Fitri, Suci Ramadhani Rangkuti, Rahmayani, and Marwah Naila Maharani. “Struktur Sosial Masyarakat Nelayan Pesisir Di Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai.” Jurnal Akuntansi Manajemen Pariwisata dan Pembelajaran Konseling 3, no. 1 (2025): 585–591.

Satria, A., and Y. Matsuda. “Decentralization Of Fisheries Management In Indonesia.” Marine Policy 28, no. 5 (2004): 437–450.

Setiawan, H., M. Rusdi, and B. Santoso. “Kondisi Mangrove Dan Upaya Konservasi Di Pesisir Riau.” Jurnal Oseanografi 9, no. 1 (2018): 55–66.

Simanjuntak, Asnika Putri, Zulkarnain Zulkarnain, Ardi Gustri Purbata, and Ibnu Phonna Nurdin. “Perubahan Sosial Masyarakat Nelayan Di Kawasan Pesisir Selatan Sumatera Barat.” Jurnal Pendidikan Sosial 12, no. 1 (2025).

Yuliana. “Dinamika Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Pesisir.” Journal Of Aquaculture Science 6, no. IS (2021): 28–36.

Zuska, F., dkk. Dinamika Masyarakat Di Sekitar Industri Hulu Migas Studi Etnografi Di Wilayah Sumbagut (Riau, Sumut, Aceh, Kepulauan Riau). 1st ed. Depok: Rajawali Pers, 2022.

Published
2025-10-31
How to Cite
Rauf, M., Bati, M. R., Yusuf, Y., & Rosaliza, M. (2025). Coastal Environmental Degradation and Local Wisdom Responses: A Case Study of Mundam Village, Dumai City. Al-Mada: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 8(4), 801-812. https://doi.org/10.31538/almada.v8i4.9162