The Optimization of Islah in Divorce Cases Decided by Default Judgment at the Sanggau Religious Court
Optimalisasi Islah dalam Perceraian pada Putusan Verstek di Pengadilan Agama Sanggau
Abstract
Divorce cases decided by default judgment (verstek) prevent mediation from being conducted due to the defendant’s absence during court proceedings. This condition raises the question of how the principle of ishlah (reconciliation) may still be pursued in judicial reasoning when divorce cases are examined without the presence of one of the parties. This study aims to analyze the optimization of the principle of ishlah in judges’ legal reasoning in default divorce cases at the Sanggau Religious Court. This research employed normative legal research with a qualitative approach, using statutory and case approaches to examine 15 default divorce judgments issued by the Sanggau Religious Court. Legal materials were collected through library research using purposive sampling and analyzed descriptively. The findings indicate that the formal implementation of ishlah is constrained because mediation cannot be conducted in the absence of the defendant. Nevertheless, the values of ishlah remain reflected in judicial reasoning, particularly through the assessment of legal facts, the degree of marital breakdown, the possibility of preserving the marriage, and considerations of the parties’ welfare before a divorce judgment is rendered. The study concludes that the optimization of the principle of ishlah in default divorce cases is manifested not only through formal mediation but also through the internalization of reconciliation and welfare values in judicial reasoning, ensuring that divorce is treated as a measure of last resort.
Perkara perceraian yang diputus secara verstek menyebabkan mediasi sebagai sarana perdamaian tidak dapat dilaksanakan karena ketidakhadiran tergugat dalam persidangan. Kondisi tersebut menimbulkan persoalan mengenai bagaimana prinsip islah tetap diupayakan dalam pertimbangan hukum hakim ketika perkara perceraian diperiksa tanpa kehadiran salah satu pihak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis optimalisasi prinsip islah dalam pertimbangan hukum hakim pada perkara perceraian verstek di Pengadilan Agama Sanggau. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan kualitatif melalui pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus terhadap 15 putusan perceraian verstek di Pengadilan Agama Sanggau. Pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi kepustakaan dengan teknik purposive sampling dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan islah secara formal mengalami keterbatasan karena mediasi tidak dapat dilaksanakan akibat ketidakhadiran tergugat. Meskipun demikian, nilai-nilai islah tetap tercermin dalam pertimbangan hukum hakim, khususnya melalui penilaian terhadap fakta hukum, tingkat keretakan rumah tangga, kemungkinan keberlanjutan perkawinan, serta kemaslahatan para pihak sebelum putusan perceraian dijatuhkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi prinsip islah dalam perkara perceraian verstek tidak hanya tercermin melalui mediasi formal, tetapi juga melalui internalisasi nilai perdamaian dan kemaslahatan dalam pertimbangan hukum hakim sehingga perceraian ditempatkan sebagai jalan terakhir bagi para pihak.
Downloads
References
Ali, Ernawaty Hadji and Dedi Sumanto. “Analisis Putusan Verstek Dalam Cerai Gugat Dan Upaya Hukum Di Pengadilan Agama Limboto.” Jurnal Al-Himayah 5, no. 1 (2021): 62–63.
Almitra, Iffah. “Audi Et Alteram Partem Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 Tentang Peradilan Umum Dan Herziene Inlandsche Reglement (HIR).” Jurnal Verstek 1, no. 3 (2013): 16. https://doi.org/https://doi.org/10.20961/jv.v1i3.38816.
Al-Qurtubi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad. Terjemah Tafsir Al-Qurtubi. Vol. 5. 2008.
Asni. “Pertimbangan Maslahat Dalam Putusan Perceraian Akibat Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Pengadilan Agama.” AHKAM: Jurnal Ilmu Syariah 14, no. 1 (2014): 105–7. https://doi.org/https://doi.org/10.15408/ajis.v17i1.1247.
Azizah, Rizqiyah Rosyidatul. “Pola Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Perceraian Di Pengadilan Agama.” Kosmik Hukum 21, no. 1 (2021): 28–31. https://doi.org/10.30595/kosmikhukum.v21i1.8694.
Az-Zuhaili, Wahbah. Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu. Vol. 9. Gema Insani, 1997.
Etikan, Ilker, Sulaiman Abubakar Musa, and Rukayya Sunusi Alkassim. “Comparison of Convenience Sampling and Purposive Sampling.” American Journal of Theoretical and Applied Statistics 5, no. 1 (2016): 2–3.
Fitri, Winda, Theresia Tampubolon, Inggrid Rosemary Santoso, Vinny Aprilia, Nur Anisa Ramadani, and Adiyanto. “Kajian Yuridis Implikasi Cerai Talak (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Batam).” HAKAM; Jurnal Kajian Hukum Islam Dan Hukum Ekonomi Islam 7, no. 2 (2023): 156.
Herziene Indonesisch Reglement (HIR), § Pasal 125 (1926). https://jdih.mahkamahagung.go.id/legal-product/herzien-inlandsch-reglement-hir/detail.
Isnantiana, Nur Iftitah. “Legal Reasoning Hakim Dalam Pengambilan Putusan Perkara Di Pengadilan.” Islamadina : Jurnal Pemikiran Islam 18, no. 2 (2017): 41–56. https://doi.org/https://doi.org/10.30595/islamadina.v18i2.1920.
Jamil, Abdul and Muliadi Nur. “Perlindungan Hukum Dan Keadilan Para Pihak Melalui Ex Officio Hakim Dalam Putusan Verstek Perkara Perceraian.” Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM 292 (2022): 439–60. https://doi.org/https://doi.org/10.20885/iustum.vol29.iss2.art10.
Khaira, Ummul and Azhari Yahya. “Pelaksanaan Upaya Perdamaian Dalam Perkara Perceraian (Suatu Kajian Terhadap Putusan Verstek Pada Mahkamah Syar’iyah Bireuen).” Jurnal Penelitian Hukum DE JURE 18, no. 3 (2018): 319–34. https://doi.org/https://doi.org/10.30641/dejure.2018.V18.319-334.
Khalid, Afif. “Penafsiran Hukum Oleh Hakim Dalam Sistem Peradilan Di Indonesia.” Al-’Adl: Jurnal Hukum 6, no. 11 (2014): 20–22. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31602/al-adl.v6i11.196.
Kompilasi Hukum Islam, Pub. L. No. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 (1991).
Mahkamah Agung Republik Indonesia. Laporan Tahunan Mahkamah Agung Republik Indonesia 2024. 2025. https://kepaniteraan.mahkamahagung.go.id/publikasi/laporan-tahunan.
Manullang, E. Fernando M. “Penafsiran Teleologis/Sosiologis, Penafsiran Purposive Dan Aharon Barak: Suatu Refleksi Kritis.” Veritas et Justitia 5, no. 2 (2019): 262–63. https://doi.org/https://doi.org/10.25123/vej.v5i2.3495.
Mutholib, Mutholib, Liky Faizal, and H. Muhammad Zaki. “Analisis Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Mediasi Perkara Perceraian Di Pengadilan Agama Gedong Tataan Dan Pengadilan Agama Pringsewu Lampung.” AL-MANHAJ: Jurnal Hukum Dan Pranata Sosial Islam 4, no. 1 (2022): 83–92. https://doi.org/https://doi.org/10.37680/almanhaj.v4i1.1544.
Nastangin, Nastangin Nastangin, Soraya Al Latifa, and Muhammad Chairul Huda. “Peran Mediator Dalam Penanganan Perkara Perceraian: Kajian Dalam Perspektif Teori Islah.” Istinbath: Jurnal Hukum 19, no. 2 (2022): 205–10. https://doi.org/https://doi.org/10.32332/istinbath.v19i02.5048.
Pakarti, Muhammad Husni Abdulah, Diana Farid, Sofyan Mei Utama, Otong Syuhada, and Hendriana. “Asas Keadilan Sebagai Salah Satu Landasan Hakim Dalam Memutuskan Putusan Perceraian.” Al -Ahwal Al-Syakhsiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Dan Peradilan Islam 4, no. 2 (2023): 101–13. https://doi.org/https://doi.org/10.15575/as.v4i2.25998.
Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi Di Pengadilan. (2016). https://peraturan.bpk.go.id/Details/209641/perma-no-1-tahun-2016.
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (1975).
Putusan Pengadilan Agama Sanggau Nomor 36/Pdt.G/2024/PA.Sgu (Pengadilan Agama Sanggau February 7, 2024).
Putusan Pengadilan Agama Sanggau Nomor 55/Pdt.G/2024/PA.Sgu (Pengadilan Agama Sanggau February 27, 2024).
Putusan Pengadilan Agama Sanggau Nomor 189/Pdt.G/2024/PA.Sgu (Pengadilan Agama Sanggau July 2, 2024).
Putusan Pengadilan Agama Sanggau Nomor 205/Pdt.G/2024/PA.Sgu (Pengadilan Agama Sanggau July 10, 2024).
Putusan Pengadilan Agama Sanggau Nomor 207/Pdt.G/2024/PA.Sgu (Pengadilan Agama Sanggau July 9, 2024).
Randitha, Kadek Ardi Arya, Ratna Artha Windari, and Si Ngurah Ardhya. “‘Broken Marriage’ Sebagai Doktrin Yang Melandasi Alasan Terjadinya Perceraian Di Indonesia (Studi Putusan Perkara Nomor 525Pdt.G2021PN.Sgr).” RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business 5, no. 1 (2026). https://doi.org/https://doi.org/10.31004/riggs.v5i1.7173.
Rechtsreglement Voor de Buitengewesten (RBg), § Pasal 149 ayat (1) (1927). https://putusan3.mahkamahagung.go.id/peraturan/detail/11e9da0a8acb021e8439313835303432.html.
Rochman, Fiki Fathur, Ach.Faisol, and Dzulfikar Rodafi. “Analisis Putusan Verstek Dalam Perkara Perceraian Studi Kasus Di Pengadilan Agama Kabupaten Malang.” HIKMATINA: Jurnal Ilmiah Hukum Keluarga Islam 1, no. 2 (2019): 17.
Saidah. “Konsep Ishlah Dalam Hukum Islam (Perspektif Tafsir Maudhu’iy).” Jurnal Hukum Diktum 10, no. 2 (2012): 126.
Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2023 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar MA Tahun 2023 (2023).
Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2013 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan (2014).
Syafliansah, Esti Royani, Juni Gultom, and Hari Selamet. Metode Penelitian Hukum. Zahir Publishing, 2025.
Tschentscher, Axel. “Interpreting Fundamental Rights: Freedom versus Optimization.” In Debates in German Public Law. Hart Publishing, 2014.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1 § Pasal 1 dan Pasal 39 (1974). https://peraturan.bpk.go.id/Details/47406/uu-no-1-tahun-1974.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Pub. L. No. UU No. 7 Tahun 1989, UU 7/1989 (1989). Diubah dengan UU No. Tahun 2006 dan UU No. Tahun 2009.
Copyright (c) 2026 Nungky Nadia Putri, Witia Oktaviani

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




.png)




