THE SUPREME COURT'S DECISION ON MANDATORY WILL FOR DIFFERENT RELIGIONS: PROGRESSIVE LEGAL STUDIES
PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG TENTANG WASIAT WAJIBAH BAGI AHLI WARIS BEDA AGAMA: STUDI KAJIAN HUKUM PROGRESIF
Abstract
This paper aims to strengthen the basis of judges' ijtihad in deciding cases related to granting mandatory wills to heirs of different religions. This research uses normative research with juridical analysis. Based on the results of the research, the author will examine using Satjipto Rahardjo's progressive legal theory as his analysis. Problems related to the distribution of inheritance are problems that often occur. One that is still being debated is the distribution of inheritance to heirs of different religions. Several court decisions have determined their decision to give mandatory wills to heirs of different religions. This mandatory will is nothing but to fulfill justice. The Compilation of Islamic Law only mentions mandatory wills for adopted children and adoptive parents. However, in deciding a case, the judge has the principle of freedom so that he can do rechtsvinding (legal discovery). The judge's ijtihad in determining the mandatory will has its basics, first considering historical factors, secondly using the interpretation method, thirdly using argumentum analogy, and fourthly the existence of Islamic inheritance law. The results of the judge's ijtihad are efforts to fulfill justice and achieve maslahah.
Keywords: Different Religion Heir, Mandatory testament, Rechtsvinding
Abstrak
Tulisan ini bertujuan untuk menguatkan dasar ijtihad hakim dalam memutuskan perkara terkait dengan pemberian wasiat wajibah kepada ahli waris yang berbeda agama. Penelitian ini menggunakan penelitian normatif dengan analisis yuridis. Berdasarkan hasil penelitian, penulis akan mengkaji dengan menggunakan teori hukum progresif Satjipto Rahardjo sebagai pisau analisisnya. Permasalahan terkait pembagian harta warisan merupakan permasalah yang sering kali terjadi. Salah satu yang masih menjadi perdebatan adalah pembagian harta warisan kepada ahli waris beda agama. Beberapa putusan pengadilan telah menetapkan putusannya untuk memberikan wasiat wajibah kepada ahli waris beda agama. Pemberian wasiat wajibah ini tidak lain untuk memenuhi keadilan. Dalam Kompilasi Hukum Islam memang hanya menyinggung wasiat wajibah bagi anak angkat dan orang tua angkat. Akan tetapi dalam memutuskan suatu perkara, hakim memiliki asas kebebasan sehingga mampu melakukan rechtsvinding (penemuan hukum). Adapun ijtihad hakim dalam menentukan wasiat wajibah memiliki dasar-dasar tersendiri, pertama mempertimbangkan faktor sejarah, kedua penggunaan metode interpretasi, ketiga metode argumentum peranalogium, keempat eksistensi hukum kewarisan Islam. Hasil ijtihad hakim tersebut merupakan upaya dari pemenuhan keadilan dan mencapai kemaslahatan.
Kata Kunci : Ahli Waris Beda Agama, Wasiat Wajibah, Rechtsvinding
Downloads
References
Al-Syaibani, Abu Abdullah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hanbal Ibn Hilal Ibn Asad. Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hanbal. t.k: Muassasah al-Risalah, 1421.
Andayani, Dwi dan Tetty Hariyati, “Problematika Wasiat Wajibah Terhadap Ahli Waris Beda Agama di Indonesia.” Cepalo. No.2. Juli-Desember 2020. hlm. 157-170.
Ansori, Lutfil. ”Reformasi Penegakan Hukum Perspektif Hukum Progresif”. Jurnal Yuridis, Vol.2. No.4 . Desember 2017. hlm. 148-163.
Chistiano, Hwian. “Penafsiran Hukum Progresif dalam Perkara Pidana”. Mimbar Hukum. Vo.23. No.3. Oktober 2011. hlm.479-500
Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Surabaya: PT Cordoba Internasional Indonesia, 2012.
Destri dkk. “Pengaturan dan Implementasi Wasiat Wajibah di Indonesia.” Mimbar Hukum. no. 2. Juni 2010. hlm. 311-329.
Fuadi, Ana Melah Haque, “Cara Menyelesaikan Wasiat Wajibah Menurut Ibnu Hazm dan Hazairin: Studi Komperatif”, Syakhsia: Jurnal Hukum Perdata Islam, Vol. 20, No. 1. Januari-Juni 2019. hlm.99-144.
Handayono, Bambang Teguh. “Metode Penemuan Hukum Oleh Hakim.” Hukum dan Dinamika Masyarakat. No. 2. April 2017. hlm. 144-150.
Hanum, Zulfia dan Alfi Syahr. “Wasiat Wajibah Sebagai Wujud Penyelesaian Perkara Waris Beda Agama Dalam Perkembangan Sosial Masyarakat,” Holistik: Journal for Islamic Social Sciences. Tahun 2016. hlm. 123-133.
Hayati, Amal, Riski Muhamad Haris, dan Zuhdi Hasibuan. Hukum Waris, Meda: CV Manhaji, 2015.
Jarchosi, Achmad. “Pelaksanaan Wasiat Wajibah”. ADHKI: Journal of Islamic Family Law. Vol. 2. No.1. Juni 2020. hlm.77-90.
Khisni, Ahmad. Hukum Waris Islam, Semarang: UNISSULA PRESS, 2013.
Kompilasi Hukum Islam
Maimun. “Pembagian Hak Waris Terhadap Ahli Waris Beda Agama Melalui Wasiat Wajibah Dalam Perspektif Hukum Kewarisan Islam.” Asas: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah. No.1 Tahun 2017. hlm. 1-14.
Mutmainnah, Iin. “Wasiat Wajibah Bagi Ahli Waris Beda Agama : Analis Terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor: 368K/AG/1995.”Diktum Jurnal Syariah dan Hukum. No.2. Desember 2019. hlm. 187-210.
Nawawi, Maimun. Pengantar Hukum Kewarisan Islam, Surabaya: Pustaka Radja, 2016..
Nuryadi, H. Deni. “Teori Hukum Progresif dan Penerapannya di Indonesia”. Jurnal Ilmiah Hukum De Jure. Vol. 1. No.1. September 2016. hlm. 398-408.
Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.368K/AG/1995
Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 51K/AG/1999
Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.16K/AG/2010
Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 721K/AG/2015
Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.218K/AG/2016
Rajarho, Alip Pamungkas dan Elok Fauzia Dwi Putri. “Analisis Pemberian Wasiat Wajibah terhadap Ahli Waris Beda Agama Pasca Putusan Mahkamah Agung Nomor 331K/AG/2018.” Jurnal Suara Hukum. Vol.1. No.2. September 2019. hlm. 172-185.
Ramadhan, Choki R..“Konvergensi Civil Law dan Common Law di Indonesia dalam Penemuan dan Pembentukan Hukum”. Mimbar Hukum. Vol. 30. No.2. Juni 2018. hlm. 213-229.
Rizkal. “Pemberian Hak Waris dalam Hukum Islam Kepada Non-Muslim Berdasarkan Wasiat Wajibah: Kajian Putusan Nomor 16K/AG/2010.” Jurnal Yudisial. Vol. 9. No.2. Agustus 2016. hlm. 173-193.




.png)




