Harmonization of Balinese Customary Law and National Law: A Normative Juridical Study on the Recognition of Divorce in Denpasar City
Harmonisasi Hukum Adat Bali dan Hukum Nasional: Studi Yuridis Normatif atas Pengakuan Perceraian di Kota Denpasar
Abstract
This study examines the harmonization between Balinese customary law (hukum adat Bali) and national law in the recognition of divorce cases in Denpasar City. This phenomenon reflects the dynamics of legal pluralism in Indonesia, where multiple legal systems state law, customary law, and religious law coexist and interact within society. Balinese customary law, rooted in local wisdom and codified through awig-awig (customary regulations), plays a vital role in resolving divorce cases through consensus and mediation mechanisms. Meanwhile, national law, particularly Law No. 1 of 1974 on Marriage, provides a formal legal framework ensuring that divorce proceedings have legal validity. This research employs a normative juridical approach, analyzing legislation, legal doctrines, and relevant literature. The findings indicate that the harmonization process between customary and national law has not yet functioned optimally due to normative inconsistencies, the absence of clear regulations, and gender inequality in the application of customary law. Nevertheless, the constitutional recognition of customary law communities as stipulated in Article 18B of the 1945 Constitution serves as a strong foundation for aligning both legal systems. To achieve inclusive justice and legal certainty, it is essential for the government, customary institutions, and judicial bodies to strengthen cooperation and integration between customary and national law in addressing divorce cases in Bali.
Penelitian ini membahas tentang harmonisasi antara hukum adat Bali dan hukum nasional dalam pengakuan perceraian di Kota Denpasar. Fenomena ini mencerminkan dinamika pluralisme hukum di Indonesia, di mana berbagai sistem hukum-hukum negara, hukum adat, dan hukum agama berinteraksi dalam kehidupan sosial masyarakat. Hukum adat Bali, yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal dan diatur melalui awig-awig, memiliki peran penting dalam penyelesaian perkara perceraian melalui mekanisme musyawarah dan mediasi. Sementara itu, hukum nasional melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memberikan dasar formal bagi pelaksanaan perceraian agar memiliki kekuatan hukum yang sah. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan menelaah peraturan perundang-undangan, doktrin, dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses harmonisasi antara hukum adat dan hukum nasional belum berjalan secara optimal akibat adanya perbedaan norma, minimnya regulasi yang tegas, serta ketimpangan peran perempuan dalam hukum adat. Meskipun demikian, adanya pengakuan konstitusional terhadap masyarakat hukum adat sebagaimana diatur dalam Pasal 18B Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menjadi dasar kuat bagi upaya penyelarasan kedua sistem hukum tersebut. Untuk mencapai keadilan dan kepastian hukum yang inklusif, diperlukan komitmen pemerintah, lembaga adat, dan lembaga peradilan untuk memperkuat sinergi hukum adat dan hukum nasional dalam penyelesaian perkara perceraian di Bali.
Downloads
References
Adnyani, Ni K S, and I G A Purnamawati. “Pengarusutamaan Gender Krama Istri (Warga Perempuan) Dalam Hukum Adat Bali.” Pandecta Research Law Journal 15, no. 1 (2020): 26–43. https://doi.org/10.15294/pandecta.v15i1.18422.
Alting, Husen. “Penguasaan Tanah Masyarakat Hukum Adat (Suatu Kajian Terhadap Masyarakat Hukum Adat Ternate).” Jurnal Dinamika Hukum 11, no. 1 (2011). https://doi.org/10.20884/1.jdh.2011.11.1.75.
Amriyeny, Ulya F, Yuliyanto Yuliyanto, Oki W Budianto, and Rodes Ober Adi Guna Pardosi. “Policy Paper Urgensi Pembentukan Rancangan Peraturan Menteri Hukum Dan HAM Tentang Tata Cara Dan Prosedur Harmonisasi Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah, Dan Rancangan Peraturan Presiden, Serta Dimensi Harmonisasi Dan Digitalisasi Har,” 2023. https://doi.org/10.30641/kumhampress.120.
Arba, Arba. “Persfektif Hukum Agraria Nasional Dan Hukum Adat Bima.” Jurnal Jatiswara 34, no. 2 (2019): 184. https://doi.org/10.29303/jatiswara.v34i2.201.
Azami, Takwim. “Dinamika Perkembangan Dan Tantangan Implementasi Hukum Adat Di Indonesia.” Qistie 15, no. 1 (2022): 42. https://doi.org/10.31942/jqi.v15i1.6487.
Bundong, Paulus, Heria Mariaty, and Thea Farina. “Disharmonisasi Pengaturan Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat Pada Kawasan Hutan.” Palangka Law Review 2, no. 2 (2022): 39–50. https://doi.org/10.52850/palarev.v2i2.4896.
Faharudin. “Analisis Interaksi Kedaulatan Masyarakat Adat Di Indonesia.” Lawyer 1, no. 1 (2023): 1–6. https://doi.org/10.58738/lawyer.v1i1.133.
Fauzi, Muhammad A. “Harmonisasi Hukum Adat Dengan Hukum Islam.” Comserva Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat 3, no. 07 (2023): 2483–89. https://doi.org/10.59141/comserva.v3i07.993.
Handayani, Tri A, and Andrianto Prabowo. “Analisis Hukum Pidana Adat Dalam Hukum Pidana Nasional.” Jurnal Hukum Ius Publicum 5, no. 1 (2024): 89–105. https://doi.org/10.55551/jip.v5i1.95.
Harahap, Ikhwanuddin. “Pluralisme Hukum Perkawinan Di Tapanuli Selatan.” Miqot Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 43, no. 1 (2019): 64. https://doi.org/10.30821/miqot.v43i1.656.
Hazairin. (1981). Tinjauan Mengenai Hukum Adat dan Hukum Nasional. Jakarta: Tintamas.
Iqbal, Firdaus M, and Irawati Irawati. “Hukum Internasional Sebagai Perangkat Politik : Pembuatan Perjanjian Internasional Oleh Pemerintah Daerah Di Indonesia.” Jurnal Caraka Prabu 7, no. 2 (2023): 61–84. https://doi.org/10.36859/jcp.v7i2.1833.
Manan, Bagir. (2017). Pluralisme dan Harmonisasi Hukum di Indonesia. Yogyakarta: FH UII Press.
McKee, Derek. “Review Essay— Emmanuel Melissaris’sUbiquitous Law: Legal Theory and the Space for Legal Pluralism- [Emmanuel Melissaris, Ubiquitous Law: Legal Theory and the Space for Legal Pluralism; Ashgate Press, ISBN: 978-0-7546-2542-1; 178 Pages; £ 55.” German Law Journal 11, no. 5 (2010): 573–84. https://doi.org/10.1017/s2071832200018721.
Mohamad, Rahmat, and I W Rideng. “The Legal Pluralism in Law Education in Indonesia.” Sociological Jurisprudence Journal 4, no. 1 (2021): 1–5. https://doi.org/10.22225/scj.4.1.2635.1-5.
Muhazir, Muhazir. “Islam, Fatwa Dan Negara: Meretas Pluralisme Hukum Perceraian Di Aceh.” Al-Manahij Jurnal Kajian Hukum Islam 15, no. 2 (2021): 233–48. https://doi.org/10.24090/mnh.v15i2.5150.
Mulyanto, Mulyanto. “Pecalang: Kearifan Lokal Hukum Adat Bali,” 2021. https://doi.org/10.14203/press.355.
Nasution, Adelina. “Pluralisme Hukum Waris Di Indonesia.” Al-Qadha Jurnal Hukum Islam Dan Perundang-Undangan 5, no. 1 (2019): 20–30. https://doi.org/10.32505/qadha.v5i1.957.
Nurjaya, I N. “Memahami Kedudukan Dan Kapasitas Hukum Adat Dalam Politik Pembangunan Hukum Nasional.” Perspektif 16, no. 4 (2011): 236. https://doi.org/10.30742/perspektif.v16i4.86.
Pohan, Mahalia N. “Hukum Adat Sumatera Utara Dalam Yurisprudensi Di Indonesia.” Doktrina Journal of Law 1, no. 1 (2018): 1. https://doi.org/10.31289/doktrina.v1i1.1607.
Pradhani, Sartika I. “Pendekatan Pluralisme Hukum Dalam Studi Hukum Adat: Interaksi Hukum Adat Dengan Hukum Nasional Dan Internasional.” Undang Jurnal Hukum 4, no. 1 (2021): 81–124. https://doi.org/10.22437/ujh.4.1.81-124.
Rahmasari, Betha, Ariza Umami, and Tirta Gautama. “Pengaruh Hukum Adat Dalam Pengaturan Pemerintahan Desa: Perspektif Normatif.” Muhammadiyah Law Review 7, no. 2 (2023): 60. https://doi.org/10.24127/mlr.v7i2.2770.
Rezi, Rezi, and Istiyawati Rahayu. “Transformasi Kebijakan Pengelolaan Sampah Plastik Global Pasca Global Plastics Treaty: Implikasi Bagi Regulasi Nasional Di Indonesia.” Jiip - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 8, no. 3 (2025): 3320–26. https://doi.org/10.54371/jiip.v8i3.7557.
SARI, N I L A. “Pengakuan Dan Perlindungan Hukum Terhadap Masyarakat Hukum Adat (Dalam Perspektif Negara Hukum).” Ganec Swara 14, no. 1 (2020): 439. https://doi.org/10.35327/gara.v14i1.119.
Sari, Ruli V, and Rina A Prastyanti. “Sengketa Hukum Keluarga Lintas Negara Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung No.486 K/Pdt.Sus/2014.” Inovasi Global Jurnal 2, no. 11 (2024): 1808–14. https://doi.org/10.58344/jig.v2i11.211.
Sopian, Sopian, Dendi M Agustiana, Eti Heryati, Nova Nova, and Ruslandi Ruslandi. “Sistem Pemerintahan Masyarakat Hukum Adat Baduy Banten.” Jurnal Citizenship Virtues 3, no. 2 (2023): 621–29. https://doi.org/10.37640/jcv.v3i2.1877.
Sugianto, Fajar, Vincensia E P Sari, and Graceyana Jennifer. “Ketimpangan Hak Berbasis Gender Dalam Hukum Waris Adat Suku Lamaholot.” Dih Jurnal Ilmu Hukum 17, no. 2 (2021): 152–66. https://doi.org/10.30996/dih.v17i2.4854.
Suryanto, Dede S D. “Dinamika Pelaksanaan Hukum Adat Dayak Ngaju Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Di Kalimantan Tengah.” Vyavahara Duta 19, no. 1 (2024): 68–76. https://doi.org/10.25078/vyavaharaduta.v19i1.3174.
Soekanto, Soerjono. (2019). Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press
Soemitro, Ronny Hanitijo. (1994). Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Suwitra, I M. “Eksistensi Tanah Adat Dan Masalahnya Terhadap Penguatan Desa Adat Di Bali.” Wicaksana Jurnal Lingkungan Dan Pembangunan 4, no. 1 (2020): 31–44. https://doi.org/10.22225/wicaksana.4.1.1816.31-44.
Titisari, Anastasia S, Luh K R Swandewi, C F S Warren, and Anja Reid. “Stories of Women’s Marriage and Fertility Experiences: Qualitative Research on Urban and Rural Cases in Bali, Indonesia.” Gates Open Research 7 (2024): 124. https://doi.org/10.12688/gatesopenres.14781.2.
Ubbe, Ahmad. “Peradilan Adat Dan Keadilan Restoratif.” Jurnal Rechts Vinding Media Pembinaan Hukum Nasional 2, no. 2 (2013): 161. https://doi.org/10.33331/rechtsvinding.v2i2.70.
Wahid, Annisa. “Hukum Adat Minangkabau Sebagai Basis Dan Perspektif Dalam Pembentukan Sistem Hukum Nasional.” Jisrah Jurnal Integrasi Ilmu Syariah 4, no. 2 (2023): 255. https://doi.org/10.31958/jisrah.v4i2.10154.
Wedanti, I Gusti Ayu Jatiana Manik, Wayan Windia, and I K Sudantra. “Perkawinan Negen Dadua Sebagai Wujud Kesetaraan Gender Dalam Masyarakat Hukum Adat Bali.” Sinthop Media Kajian Pendidikan Agama Sosial Dan Budaya 2, no. 2 (2023): 90–103. https://doi.org/10.22373/sinthop.v2i2.3229.
Wibawa, I P S. “Hukum Tidak Tunggal: Potret Pluralisme Hukum Dalam Pengaturan Kawasan Tempat Suci Pura Uluwatu Di Bali.” Dharmasmrti Jurnal Ilmu Agama Dan Kebudayaan 18, no. 1 (2018): 45–53. https://doi.org/10.32795/ds.v1i18.101.
Windia, Wayan P. (2013). Hukum Adat Bali: Perspektif Sosio-Kultural dan Religius. Denpasar: Universitas Udayana Press.
Wiguna, Made O C. “Memahami Pertalian Desa Pakraman Di Bali Dengan Karang Ayahan Sebagai Bagian Dari Palemahan Berdasarkan Konsep Tri Hita Karana.” Jurnal Panorama Hukum 3, no. 2 (2018): 125–40. https://doi.org/10.21067/jph.v3i2.2728.
Winatha, I G M Y, Cokorda G Swetasoma, Kadek A P Dewi, I K Ardana, and Ni Luh Ade Bunga Kris Nanti. “Legal Status of Balinese Women Who Commit Ninggal Kedaton Terbatas Marriage Against Guna Kaya Inheritance.” Kne Social Sciences, 2024. https://doi.org/10.18502/kss.v8i21.14725.
Copyright (c) 2025 Alya Nabila Jagaddhita Zahiroh, Tjempaka Tjempaka

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




.png)




